Tampilkan postingan dengan label KULIAHKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KULIAHKU. Tampilkan semua postingan

Kadar Lengas Tanah Kering Udara


Kadar Legas Tanah Kering Udara
 
Air diikat dalam tanah dalam ruang-ruang pori oleh gaya tarikan pada permukaan koloid, oleh tegangan permukaan dalam kapiler, dan oleh tarikan pada ion-ion. Dalam kondisi basah, semua pori tanah terisi oleh air. Tanah tersebut dianggap berada pada kapasitas memegang air maksimum. Air lebihan bebas bergerak dalam tanah dengan gaya gravitasi. Pergerakan ini yang disebut drainese, biasanya menghasilkan sejumlah pengaruh yang tidak diinginkan, seperti penggenangan dan pelinihan hara. Penyebaran curah hujan di Indonesia cukup beragam dari pulau ke pulau, dari permukaan laut ke punjak gunung. Dari barat ke timur ada kecenderungan menurun curah hujan, sedangkan dari permukaan laut meningkat dengan ketinggian tertentu, kemudian menurun pada ketinggian berikutnya. Curah hujan meningkat dari permukaan laut dan mencapai maksimum sebesar 3681 mm pada ketinggian 1844 m. Pembahasan tata air dan udara erat hubungannya dengan pembahasan penyabaran pori-pori di dalam tanah. Terdapat bermacam-macam ukuran pori-pori tanah yang fungsinya bagi pertumbuhan tanaman dapat berbeda-beda.




Ukuran pori tanah dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu:
1.      Pori yang berguna
Pori yang di isi air yang tersedia  dan oleh udara tanah atau dalm keadaan jenuh seluruhnya di isi air termasuk air drainase untuk pembuangan, ukurannya > 0,2 mikron.
2.      Pori yang tidak berguna
Pori yang mengandung air sedemikian rupa sehingga akar tanaman tidak dapat menghisapnya. Pada keadaan ini tanaman layu, ukurannya < 0,2 mikron.
Air hujan yang jatuh  di permukaan bumi dapat direkayasa oleh manusia dengan menggunakan istilah hujan buatan, walaupun pada hakekatnya yang dimaksud hujan buatan hanya berupa stimulan uap air yang sudah ada di atmosfer kemudian di kondensasikan, sehingga uap air jatuh dipermukaan bumi. Keterbatasan IPTEK masih mewarnai teknologi hujan buatan tersebut baik ditinjau dari aspek biaya, akurasi, dan waktu masih merupakan kendala yang serius dan belum dapat dikendalikan oleh manusia. Tanah dengan kandungan bahan organik dan liat tinggi mempunyai kapasitas penyangga yang rendah apabila basah. Tanah berpengaruh penting pada tanaman melalui hubungannya dengan air dan udara. Kemampuan tanah untuk menyimpan air diantaranya hujan yang terjadi menentukan pemberian musiman kelembaban tanah dan biasanya menentukan spesies apa yang tumbuh dalam sebuah hutan dan kecepatan pertumbuhan.
Kadar lengas merupakan salah satu sifat fisik tanah untuk mengetahui kemampuan menyerap air dan ketersediaan hara pada setiap jenis tanaman. Pola curah hujan maret umumnya diatas rata-rata dan lengas tanah yang di pengaruhi selama awal april, ketika pertumbuhan tanaman penutup tanah terbesar. Curah hujan Maret dan April adalah terutama penting di dalam sistem tanaman penutup tanah karena guna air tanaman penutup tanah boleh menghabiskan lengasan tanah kepada kerusakan dari panen. Efisiensi guna air tanaman penutup tanah sudah di laporkan untuk mencakup dari 20 juta Mg-1. Curah hujan pada bulan Mei sampai Agustus mempengaruhi karena konservasi air yang potensi bermanfaat bagi yang disediakan oleh residu penutup tanah.

Laporan Dasar Dasar Ilmu Tanah

LAPORAN DASAR ILMU TANAH


LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR–DASAR ILMU TANAH
PREPARAT TANAH LATOSOL



Disusun Oleh :
AHMAD SARTONO
134110050


JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA
2012


HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM DASAR – DASAR ILMU TANAH
PREPARAT TANAH LATOSOL



Laporan resmi praktikum Ilmu Tanah diajukan sebagai salah satu syarat untuk memenuhi praktikum Mata Kuliah Ilmu Tanah Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Univesitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta


Penanggung Jawab Praktikum                                                 Asisten Praktikum

  ( Ir. Dyah Arbiwati, MP )                                                      ( Mayta Yoga Saputra)

Untuk Dowload Selengkapnya silakan Klik Disini..


Makalah Besi Terhadap Pertumbuhan dan perkembangan Tanaman

Makalah Besi Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman
Disini TonoThemycry akan membahas tentang pengaruh besi (FE) terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Ok gak nunggu Lama  Ini Makalah besi Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. 

 BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kerusakan pada tanaman seringkali tidak hanya disebabkan oleh adanya serangan hama dan penyakit. Tidak jarang kematian tanaman disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan seperti kelebihan atau kekurangan air, suhu yang terlalu ekstrim serta kelebihan atau kekurangan unsur hara mikro. Pada umumnya orang lebih banyak memberikan perhatiannya pada unsur hara makro, padahal pada kenyataannya unsur hara mikro memegang peranan yang tidak kalah penting. Adanya kekurangan pada salah satu unsur mikro dapat juga menimbulkan kerusakan yang serius pada tanaman. Begitupun sebaliknya, dalam hubungannya dengan tanaman adalah bahwa setiap jenis tanaman berbeda-beda kebutuhannya akan unsur mikro sehingga kelebihan sedikit saja akan bersifat racun bagi tanaman.
Tanah pasir bereaksi masam dan telah tercuci berat berkadar unsur mikro rendah karena:
1.      Bahan induknya memang miskin karena unsur mikro.
2.      Pencucian telah menghilangkan sebagian besar dari unsur mikro yang memang sudah sedikit.
Jumlah unsur mikro dalam tanah organik tergantung dari jumlah unsur tersebut yang terkumpul ditempat, berasal dari pencucian atau penghanyutan dari tempat lain. Dalam beberapa hal, kecepatan pertumbuhan begitu lambat sehingga kadarnya selalu rendah dan lebih rendah daripada tanah mineral disekitarnya. Usaha intensif di tanah organik mempercepat munculnya kekurangan unsur mikro. Sebagian besar dari hasil pertanaman diangkut dari tanah. Akhirnya hara mikro dan makro harus ditambahkan dalam bentuk pupuk bila sesuatu tingkat produksi diinginkan.penanaman tanah mineral yang dipupuk secara intensif mempercepat munculnya kekurangan unsur mikro, terutama bila tanah bertekstur kasar.
Berikut adalah gejala yang timbul akibat kekurangan dari unsur mikro (Fe). 
 mempunyai simbol Fe dan nomor atom 26. Besi merupakan unsur esensial karena merupakan bagian dari enzim-enzim tertentu dan merupakan bagian dari protein yang berfungsi sebagai pembawa elektron pada fase terang fotosintesis dan respirasi (Benyamin, 2008). Fe diserap tanaman dalam bentuk Fe2+ dan Fe3+ . Penting bagi pembentukan klorofil, zat karbohidrat, lemak, protein dan enzim. Akan tetapi meskipun Fe tidak menjadi komponen zat klorofil, namun berperan sebagai katalisator pada sintesa polisakarida. Jika unsur Fe tidak terdapat maka akan terjadi penimbunan NO- dan SO42- (Mulyani, 2002). Fungsi unsur Fe didalam tanaman ikut didalam proses oksidasi reduksi di dalam fotosintesis dan respirasi, sebagai kofaktor beberapa enzim seperti λ-aminolevulinat sintetase, pepti dilprolin hidrolase (Liliek agustina, 1990).
Tinjauan Pustaka
Kerak bumi mengandung 56.000 ppm Fe yang terikat dalam batuan beku, batuan endapan dan jabarannya. Batu granit mengandung 27.000 ppm, basalt 86.000 ppm, batu kapur 3.800 ppm, batu pasir 9.800 ppm dan batu liat 47.000 ppm. Mineral utama yang mengandung besi antara lain, a) oksida : gutit (FeOOH), magnetit (Fe3O4), hematit (Fe2O3), b) sulfida : pirit (FeS), pirotit, c) silikat : olivin (Mg, Fe)2SiO4, kamosit dan glaukonit.
Sumber Fe Besi dapat juga diserap dalam bentuk khelat (ikatan logam dengan bahan organik), sehingga pupuk Fe dibuat dalam bentuk khelat. Khelat Fe yang biasa digunakan adalah Fe-EDTA, Fe-DTPA dan khelat yang lain. Fe dalam tanaman sekitar 80% yang terdapat dalam kloroplas atau sitoplasma. Bentuk Fe Tersedia Bagi Tanaman Besi (Fe) merupakan unsur mikro yang diserap dalam bentuk ion feri (Fe3+) ataupun fero (Fe2+). Mineral Fe antara lain olivin (Mg, Fe)2SiO, pirit, siderit (FeCO3), gutit (FeOOH), magnetit (Fe3O4), hematit (Fe2O3) dan ilmenit (FeTiO3). Fungsi dan Defisiensi (kekurangan/kelebihan) Penyerapan Fe lewat daun dianggap lebih cepat dibandingkan dengan penyerapan lewat akar, terutama pada tanaman yang mengalami defisiensi Fe. Dengan demikian pemupukan lewat daun sering diduga lebih ekonomis dan efisien.
Fungsi Fe antara lain sebagai penyusun klorofil, protein, enzim, dan berperanan dalam perkembangan kloroplas. Sitokrom merupakan enzim yang mengandung Fe porfirin. Kerja katalase dan peroksidase digambarkan secara ringkas sebagai berikut:
a)      Catalase : H2O + H2O O2 + 2H2O
b)      Peroksidase : AH2 + H2O A + H2O
Klorosis yang umum terdapat pada tanaman yang tumbuh pada tanah-tanah berkapur sering diacu sebagai klorosis yang terangsang oleh kapur. Istilah ini dipakai karena tanaman yang menderita klorosis yang terangsang oleh kapur dapat mempunyai kadar Fe yang rendah maupun tidak. Imobilisasi Fe dalam jaringan diakui merupakan faktor utama. Kekurangan Fe tanaman-tanaman yang klorotik sering lebih tinggi daripada tanaman-tanaman yang sehat.
Faktor utama yang berkaitan dengan klorosis pada tanah-tanah berkapur tampaknya adalah pengaruh ion bikarbonat pada penyerapan dan/atau translokasi dalam tanaman. Disamping pengaruh ion bikarbonat terhadap ketersediaan Fe, terdapat beberapa interaksi hara lain yang diketahui mempengaruhi penggunaan dan penyerapan Fe oleh tanaman. Para peneliti telah mengamati bahwa sejalan dengan menjadi rendahnya pasokan Fe pada tanah-tanah alkalin dan berkapur karena tingginya pH, hara mikro yang lain akan merangsang kekurangan Fe. Pengaruh hara mikro lainnya sering lebih parah pada tanah-tanah alkalin. Tanah-tanah ini sering mempunyai kandungan bahan organik yang rendah, yang mempengaruhi pasokan hara mikro.




BAB II
PEMBAHASAN
Besi (Fe) Terhadap Perkembangan dan Pertumbuhan Tanaman
Defisiensi (kekurangan) zat besi sesungguhnya jarang terjadi. Terjadinya gejala-gejala pada bagian tanaman (terutama daun) kemudian dinyatakan sebagai kekurangan tersedianya zat besi adalah karena tidak seimbang tersedianya zat Fe dengan zat kapur (Ca) pada tanah yang berlebihan kapur dan yang bersifat alkalis. Jadi masalah ini merupakan masalah pada daerah-daerah yang tanahnya banyak mengandung kapur (Sumber: Wikipedia Besi (Fe)). Kekurangan unsur besi (Fe) biasanya terjadi di daerah dengan tanah berkapur. Kekurangan zat besi pada tanaman akan menimbulkan gejala klorosis (penguningan) di antara tulang-tulang daun terutama pada daun-daun muda. Gejala klorosis dapat bervariasi dari yang ringan sampai parah dan mudah untuk dikenal atau diidentifikasi.
Kekurangan unsur Fe :
1.      Klorosis biasanya pada daerah alkali
2.      Daun muda berwarna putih pucat lalu kekuningan, dan akhirnya rontok. Tanaman perlahan-lahan mati dimulai dari puncak.
3.      Menyebabkan kenaikan kaadar asam amino pada daun dan penurunan jumlah ribosom secara drastis.
4.      Penurunan kadar pigmen dan protein dapat disebabkan oleh kekurangan Fe. Juga akan mengakibatkan pengurangan aktivitas semua enzim.
Gejala klorosis tersebut antara lain:
a)             Klorosis ringan: daun-daun berwarna hijau pucat atau hijau kekuningan di  antara tulang-tulang daun
b)             Klorosis sedang: Daun-daun baru mempunyai bagian-bagian yang benar-benar berwarna kuning tetapi tulang-tulang daun, bahkan tulang-tulang daun yang kecil tetap berwarna hijau normal.
c)             Klorosis parah: daun-daun baru berwarna kuning pucat sampai berwarna seperti jerami, tulang daun tengah/utama mungkin tidak hijau lagi. Pada saat musim panas bisa timbul bercak-bercak berwarna coklat pada daun; seluruh atau sebagian daun menjadi kering, daun-daun bisa gugur.

Gejala yang timbul akibat defisiensi:
a.       Gejala-gejala yang tampak pada daun muda, mula-mula secara setempat-setempat berwarna hijau pucat atau hijau kekuning-kuningan, sedangkan tulang daun tetap berwarna hijau serta jaringan-jaringannya tidak mati
b.      Selanjutnya pada tulang daun terjadi klorosis, yang tadinya berwarna hijau berubah menjadi kuning dan ada pula yang menjadi putih
c.       Gejala selanjutnya yang lebih hebat terjadi pada musim kemarau, daun-daun muda banyak yang menjadi kering dan berjatuhan
d.      Pertumbuhan tanaman seolah terhenti akibatnya daun berguguran dan akhirnya mati mulai dari pucuk.

Penanganan
1.      Meminimalkan faktor penyebab kekurangan unsur hara mikro. Rendahnya unsur hara mikro dalam tanah dapat disebabkan beberapa faktor antara lain:
a. Kesalahan dalam teknik budidaya
b. Terjadi secara alami karena beberapa hal antara lain:
• Terangkutnya unsur mikro bersama bagian tanaman yang dipanen sehingga persediaannya dalam tanah mencapai titik yang tidak dapat lagi menunjang pertumbuhan tanaman secara optimal.
• Adanya proses pencucian terutama pada tanah yang berpasir. Tanah yang ditanami secara intensif, namun pupuk yang diberikan hanya mengandung unsur hara makro saja.
2.      Pemupukan Untuk memenuhi kebutuhan unsur hara mikro, kita harus melakukan pemupukan tambahan dengan memberikan pupuk pelengkap. Bisa juga kita menggunakan pupuk campuran yang didalamnya sudah mengandung unsur hara makro maupun mikro. Adapun pemberian pupuk tersebut dapat dilakukan melalui akar ataupun lewat daun.
3.       Pengaturan PH Tanah Mengingat pH tanah sangat berpengaruh terhadap tingkat ketersediaan unsur hara mikro, maka pengaturan pH tanah sangat diperlukan. Bila pH tanah rendah, maka dapat dinaikkan dengan pengapuran (dolomit atau kiseret) sedangkan pada pH tinggi dapat diturunkan dengan memberikan belerang. Pada tanah yang ber-pH 5.5 – 6.2 jarang terjadi kekurangan unsur mikro.






BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.      Fe merupakan unsur hara mikro yang esensial bagi tanaman. Unsur Fe merupakan unsur pembentuk korofil. Didalam tubuh tanaman Fe berada sebagai penyusun fitoferitin (garam feri posfo protein) yang terdapat didalam kloroplas dan senyawa ini yang menentukan proses pembentukan klorofil.
2.      Unsur Fe dapat diserap oleh tanaman dalam bentuk ion feri (Fe3+) ataupun fero (Fe2+).
3.      Unsur Fe banyak terdapat pada pH asam dan kurang pada pH basa (alkalis) namun tersedia cukup pada kisaran pH 7 netral.
4.      Gejala defisiensi yang mulai tampak pada daun muda, mula-mula secara setempat-setempat berwarna hijau pucat atau hijau kekuning-kuningan, sedangkan tulang daun tetap berwarna hijau serta jaringan-jaringannya tidak mati.


Daftar Pustaka
Agustina, Liliek. 1990. Nutrisi Tanaman. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.
Lakitan, Benyamin. 2008. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Penerbit Radja Grafindo Persada. Jakarta.
Mulyani, M. S. 2002. Pengantar Ilmu Tanah: Terbentuknya Tanah da Tanah Pertanian. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.

Agribisnis Sebagai Suatu Sistem [Sistem agribisnis]



Agribisnis Sebagai Suatu Sistem


Agribisnis merupakan suatu sistem yang terdiri dari tiga subsistem utama.
1.      Fungsi Masing-Masing Subsisten Agribisnis
Sistem agribisnis meliputi kegiatan disubsistem masukan (input), subsistem produksi (faram) dan subsitem pengeluaran (output).
Fungsi masing-masing Subsistem tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
A.      Subsitem masukan berfungsi dalam menyediakan bahan atau perbekalan bagi produsen seperti bibit unggul, makanan ternak, pupuk, bahan bakar, bahan kimia, misal: penyediaan bibit tomat unggul Taiwan yang sangat diminati oleh konsumen karena mempunyai kelebihan, yaitu buah berbentuk bulat, kadar airnya rendah sehingga kadar airnya rendah sehingga tidak mudah rusak dan tahan lama.
B.      Subsitem Produksi
Sunsitem Produksi berfungsi untuk membididayakan tanaman dan hewana serta ikan supaya mampu tumbuh dan menghasilkan dengan baik, misal: menyediakan modal untuk mebeli bibit unggul, pupuk obat-obatan, tenaga kerja dan aspek manajemen.
C.      Subsitem Keluaran
Subsiten Keluaran berfungsi dalam pemrosesan atau oengolahan dan penyebaran atau memasarkan suatu produk dan hasil-hasil pertanian, misal: pengolahan hasil ternak dalam bentuk susu dan daging. Subsitem keluaran bertanggungjawab dalam pengubahan bentuk bahan baku dari sektor produksi menjadi produk yang akan diterima konsumen. Hal ini mencakup pemasaran hasil produksi pertanian seperti: susu kaleng, keju, roti, selai dll.
2.      Ketrkaitan Antar Subsitem Agribisnis
Antara Subsitem satu dengan subsitem lain saling berkaitan dalam sitem agribisnis, baik berkaitan langsung maupun tidak langsung. Keterkaitan antar subsitem ini bisa terjadi kedapan (forward Lingkaged) maupun keterkaitan kebelakang (Backward Lingkaged). Keterkaitan dapat digambarakan dalam bagan sebagai berikut:










 





Keterangan:
1.      Keterkaiatan antara Subsitem masukan dan Subsitem produksi
Subsitem masukan berfungsi menyediakan input bagi Subsitem produksi. Apabila Subsitem produksi mengalami keterlambatan atau kekurangan ataupun kelebihan dalam menyediakan input akan mempunyai dampak bagi subsitem keluaran.
Contoh: apabila kekurangan input akan menurunkan produksi dan apabila kelenihan produksi akan mengalami over produksi sehingga produsen atau petani akan mengalami kerugian. Bagi sektor masukan apabila daya serap  output ke inputnya menurun maka daya beli menurun. Jadi apabila terjadi keterlambatan atau kelebihan atau kekurangab dampaknya dapat langsung ataupun tidak langsung ataupun tidak langsung pada konsumen.
2.      Keterkaitan antara subsitem produksi dan subsitem keluaran
Kekurangan atau tidak kontinyunya Subsitem produksi dalam menyediakan bahan baku untuk industri (sektor keluaran) disebabkan antara lain dengan adanya:
a.      Adanya mesin kering
b.      Adanya serngan hama penyakit
c.       Transportasi yang tertutup  sehingga kesulitan untuk mengangkut  hasil produksi untuk industri
d.      Kendala faktor ekonomi, misal: harga bahan baku yang terlalu tinggi, sehingga  petani tidak mampu membeli
e.       Berubahnya kebijaksanaan pemerintah (misalkan pada cengkeh dan jeruk)
Hal tersebut menyebabkan pabrik pengolahanhasil pertanian mengalami kerugian karena proses produksinya terganggu yang akhirnya dapat merugikan konsumen. Sebaiknya bila subsitem keluaran tidak mampu menampung produk /output dari Subsitem produksi, maka produsen atau petani akan  banyak kerugian. Hal ini kerena hasil pertanian memiliki sifat-sifat yang spesifik, yaitu:
a.      Tidak tahan lama, mudah rusak, mudah busuk
b.      Nilai produk lebih rendah dari nilai volumenya (bulky)
c.       Kualitas, kuantitas dan harga ditentukan oleh alam, misal: menanam semangka dimusim hujan, maka kualitas dan kuantitasnya akan berkurang dibandingkan dengan semangka  yang ditanam sebelum musim hujan.
3.      Keterkaitan atara Subsitem keluaran dan Subsitem keluaran
Dampak atau pengaruhnya tidak begitu lansung, misal: dari hasil pertanian berupa gandum diolah menjadi roti, sehingga dapat mempengaruhi secara tidak langsung subsitem keluaran, misalnya pemasaran. Jika produksi gandum menurun akan mempengaruhi produksi roti dan pemasaran menurun. Demikian sebaliknya jika produksi gandum meningkat secara tidak langsung pemasaran roti dari hasil olahan gandum akan meningkat.
Namun, hal ini juga saling mempengaruhi bahkan dapt merugikan,  oleh karena itu pengembangan agribisnis harus dikembangakan secara menyeluruh, artinya ketiga subsitem tersebut dapat diperhatikan keseimbangan dan harus dukuasai.
3.   Manfaat, Kendala, dan Ciri-ciri Masing-masing Subsitem Agribisnis
a. Subsitem Produksi
Faktor produksi sangat menetukan besar kecilnya produksi yang diproleh.
Faktor produksi yang terpenting antara lain: faktor produksi lahan, faktor produksi modal untuk membeli bibit, pupuk, obat-obatan, faktor produksi tenaga kerja dan aspek manajemen.
Namun banyak sekali ditemui kendala dalam proses peningkatan produksi pertanian yang menurut Gomez beberapa kendala yang sering mempengaruhi produksi ertanian diklesifikasikan menjadi:
1.      Kendala yang mempengaruhi Yiel Gap I yang terdiri dari vaiabel diluar kemampuan manusia, sehingga ia sulit melakukan trasfer teknologi yang disebabkan kerana perbedaan agroklimat dan teknologi yang sulit diatasi.
2.      Kendala yang mempengaruhi Yiel Gap II yang terdiri atas varibel teknis biologis, misal: bibit, pupuk, obat-obatan, lahan dan variabel sosial  ekonomi seperti haraga, resiko ketidak pastian, kredit, adat dll.
b. Subsiten Pengolahan Hasil Pertanian
pengolahan hasil pertanian merupakan komponen kedua dalam kegiatan agribisnis setelah komponen produksi pertanian, namun banyak petani yang tidak melaksankan pengolahan hasil yang disebabkan oleh bebrbagai hal, antara lain: tidak memiliki fasilitas pengolahan, seperti: lantai jemur, tempat penyimpanan mesin pengolahan dll.